Nama : Padly Prasetyo Wibowo
Npm : 15212619
Kelas : 3EA27
Tugas : 1
Definisi
Penalaran dan Jenis – jenisnya
Pengertian Penalaran
Penalaran
adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan
pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi-proposisi yang sejenis,
berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang
menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses
inilah yang disebut dengan menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan
dasar penyimpulan disebut dengan premis (anstedens) dan hasil kesimpulannya
disebut dengan konklusi (conquence). Hubungan antara premis dan konklusi
disebut dengan konsekuensi.
Jenis – jenis Penalaran
:
Ada dua jenis metode
dalam menalar, yaitu :
1. Penalaran
Induktif
Penalaran induktif
adalah penalaran yang mengambil contoh-contoh khusus yang khas untuk kemudian
diambil kesimpulan yang lebih umum. Penalaran ini memudahkan untuk memetakan
suatu masalah sehingga dapat dipakai dalam masalah lain yang serupa. Catatan
bagaimana penalaran induktif ini bekerja adalah meski premis-premis yang
diangkat benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, kesimpulannya belum tentu
benar. Tapi kesimpulan tersebut mempunyai peluang untuk benar.
Contoh penalaran
induktif adalah :
- Kerbau punya mata,
anjing punya mata, kucing punya mata
Maka, setiap hewan
punya mata
Penalaran induktif
membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang
diangkat. Untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan
statistik.
2. Penalaran
Deduktif
Penalaran deduktif
adalah menarik kesimpulan khusus dari premis yang lebih umum. Jika premis benar
dan cara penarikan kesimpulannya sah, maka dapat dipastikan hasil kesimpulannya
benar. Jika penalaran induktif erat kaitannya dengan statistika, maka penalaran
deduktif erat dengan matematika, khususnya matematika logika dan teori himpunan
dan bilangan.
Contoh penalaran
deduktif adalah :
Masyarakat Indonesia
konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus)
dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya
hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Definisi
Proposisi dan contohnya
Proposisi adalah
istilah yang digunakan untuk kalimat pernyataan yang
memiliki arti penuh dan utuh. Hal ini berarti suatu kalimat
harus dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar
tidaknya. Singkatnya, proposisi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang
dapat dinilai benar atau salah.
Dalam ilmu logika,
proposisi mempunyai tiga unsur yakni:
Subyek
perkara yang disebutkan adalah terdiri dari orang, benda, tempat,
atau perkara.
Predikat adalah
perkara yang dinyatakan dalam subjek.
Kopula adalah kata yang
menghubungkan subjek dan predikat.
Contohnya
kalimat Semua manusia
adalah fana. Kata semua dalam kalimat tersebut dinamakan dengan
pembilang. Kemudian kata manusia berkedudukan sebagai subyek, sedang adalah merupakan
kopula. Adapun predikat di sini diwakili oleh kata fana.
Definisi Silogisme ,Jenis dan contohnya
Silogisme adalah suatu proses penarikan
kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan)
dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Jenis-jenis Silogisme
Berdasarkan bentuknya, silogisme terdiri dari;
Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan
kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang
kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi
predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang
menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle
term).
Contoh:
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
Silogisme Hipotetik
Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi
hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. Ada 4 (empat)
macam tipe silogisme hipotetik:
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh:
Sekarang hujan.(minor)
Saya naik becak (konklusi).
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
Contoh:
Sekarang bumi telah basah (minor).
Hujan telah turun (konklusi)
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent.
Contoh:
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa,
maka kegelisahan akan timbul.
Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa.
Kegelisahan tidak akan timbul.
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian
konsekuennya.
Contoh:
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan
gelisah.
Pihak penguasa tidak gelisah.
Mahasiswa tidak turun ke jalanan.
Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor
berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya
membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif
yang lain.
Contoh:
Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
Entimen
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.
Contoh :
Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.
Silogisme Disjungtif
Silogisme disjungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan
keputusan disyungtif sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui
atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti
pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara
analog bukan yang semestinya. Silogisme ini ada dua macam yaitu:
Silogisme disyungtif dalam arti sempit
Silogisme disjungtif dalam arti sempit berarti mayornya mempunyai alternatif
kontradiktif. Contoh:
Heri jujur atau berbohong.(premis1)
Ternyata Heri berbohong.(premis2)
Ia tidak jujur (konklusi).
Silogisme disjungtif dalam arti luas
Silogisme disyungtif dalam arti luas berarti premis mayornya mempunyai
alternatif bukan kontradiktif.
Contoh:
Ternyata tidak di rumah.(premis2)
Hasan di pasar (konklusi).
Sumber
:
Rapar,
Jan Hendrik (1996).Pengantar Logika, Asas-Asas Penalaran.Yogyakarta:Kanisius
.Hal 32
Departemen
Pendidikan Nasional(2008);Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama. Hal 1106. Cet Pertama Edisi IV
Kamdhi,
JS.(2003).Terampil Berargumentasi.Jakarta:PT Grasindo. Hal 67-69
Hassan,
Abdullah, dkk (2006).Sintaksis.Kuala Lumpur :PTS Professional Publishing.
Hal 15-19
Ayer
A.J. 1936, 2nd ed 1946. Language, truth and logic.
Lemmon
E.J. Sentences, statements and propositions. In Williams & Montefiore
(eds) British analytical philosophy. 1966.
Stroll
A. 1967. Statements. In Stroll A. Epistemology.
Sudarminta,
J. (2009).Epistemologi Dasar.Kanisius:Yogyakarta .Hal 98 Cet. 9
http://id.wikipedia.org/wiki/Silogisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar